Sabtu, 13 November 2010

KANKER SERVIKS dan PENYAKIT HPV bag. II

• Kanker serviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel yang tidak normal pada serviks (leher rahim).
• Perubahan ini biasanya memakan waktu beberapa tahun sebelum berkembang menjadi kanker. Oleh sebab itu sebenarnya terdapat kesempatan yang cukup lama untuk mendeteksi apabila terjadi perubahan pada sel serviks melalui skrining (papsmear atau IVA) dan menanganinya sebelum menjadi kanker serviks.
• Kebanyakan infeksi HPV dan kanker serviks stadium dini berlangsung tanpa menimbulkan gejala sedikitpun sehingga penderita masih dapat menjalani kegiatan sehari-hari. (7)
• Namun, jika dilakukan pemeriksaan deteksi dini dapat ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal yang disebut juga sebagai lesi prakanker. (7)
• Bila kanker sudah mengalami progresifitas atau stadium lanjut maka gejala-gejala yang dapat timbul antara lain: (7)
1. Pendarahan setelah senggama.
2. Pendarahan spontan yang terjadi antara periode menstruasi rutin.
3. Timbulnya keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau.
4. Nyeri panggul dan gangguan atau bahkan tidak bisa buang air kecil.
5. Nyeri ketika berhubungan seksual.
• Jangan tunda untuk menghubungi dokter jika Anda menemui gejala tersebut.
• Penyebab utamanya adalah virus yang disebut Human Papilloma (HPV) yang dapat menyebabkan kanker. (11)
• HPV 16 dan 18 secara bersama mewakili 70% penyebab kanker serviks. (12)
• Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya namun kadang bisa menjadi infeksi persisten yang dapat berkembang menjadi kanker serviks. (13)
• Yang perlu diketahui mengenai virus HPV:

1.
HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual. (14)
2.
Penularan dapat juga terjadi meski tidak melalui hubungan seksual. (14)
3.
HPV dapat bertahan dalam suhu panas. (15)
Tindakan pengobatan atau terapi sangat bergantung pada stadium kanker serviks saat didiagnosis. Dikenal beberapa tindakan (modalitas) dalam tata laksana kanker serviks antara lain: (16)
1. Tindakan bedah (surgical treatment).
2. Radioterapi
3. Kemoterapi
4. Terapi paliatif (supportive care) yang lebih difokuskan pada peningkatan kualitas hidup pasien. Contohnya: Makan makanan yang mengandung nutrisi, pengontrol sakit (pain control).
• Setiap perempuan berisiko terkena HPV penyebab kanker serviks dalam masa hidupnya tanpa memandang usia, latar belakang dan gaya hidup. (23-26)
• Setiap perempuan berisiko karena :(27-28)
1. Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya. Mereka yang mengalami infeksi persisten jarang menunjukan gejala pada stadium awal, dan biasanya berkembang menjadi kanker serviks beberapa tahun kemudian.
2. Setelah infeksi HPV, tubuh kita tidak dapat selalu membentuk kekebalan, maka kita tidak terlindungi dari infeksi berikutnya.
• Menikah / hubungan seksual pada usia muda.
• Sering melahirkan.
• Merokok.
• Berganti-ganti pasangan seksual.
• Infeksi menular seksual.
Pencegahan kanker serviks
• Pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibody) dari sistem imun didalam tubuh. (29)
• Vaksinasi merupakan pencegahan Primer. (29)
• Memberikan perlindungan yang adekuat terhadap infeksi HPV penyebab kanker serviks.
o Melawan virus tersering dan agresif penyebab kanker.
o Memberikan perlindungan tambahan dari tipe virus HPV lain yang juga menyebabkan kanker.
• Respon imun tubuh yang baik akan menghasilkan neutralizing antibodies yang tinggi.
• Dapat memberikan perlindungan jangka panjang.
• Memberikan perlindungan tinggi hingga ke lokasi infeksi (serviks).
• Profil keamanan yang baik.
• Affordable (terjangkau bagi lebih banyak perempuan).
• Untuk pencegahan infeksi oleh HPV onkogenik penyebab kanker, vaksinasi sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan dapat diberikan mulai remaja putri berusia 10 tahun. (29)
• Walaupun demikian, hampir semua perempuan dapat memperoleh manfaat karena:
1. Seorang perempuan dapat terkena HPV semasa hidupnya.
2. Infeksi HPV terdahulu tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya. (30)
3. Data menunjukkan saat seorang perempuan bertambah usia, infeksi HPV menetap dan berpotensi memicu lesi pra kanker dan dapat menyebabkan kanker. (31)
Rekomendasi pemberian vaksin
Perempuan berusia 10 – 55 tahun
Jadwal pemberian vaksin
Jadwal pemberian bulan 0, 1 atau 2, dan 6
Contoh :
Penyuntikan 1 : januari
Penyuntikan 2 : Februari/Maret
Penyuntikan 3 : Juli
• Bagi perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual, lakukan deteksi dini secara rutin. (2)
• Deteksi dini dapat mendeteksi sel abnormal, lesi pra-kanker dan kanker serviks namun tidak dapat mencegah terjadinya infeksi HPV. (33)
• Kanker serviks yang ditemukan pada stadium dini dan diobati dengan cepat dan tepat dapat disembuhkan, oleh sebab itu lakukan deteksi dini secara berkala. (33)
• Resiko berkembangnya infeksi menjadi kanker serviks adalah 3-10 kali lebih tinggi pada perempuan yang tidak menjalankan deteksi dini secara teratur. (34-37)
• Pap smear dapat dilakukan pada saat pemeriksaan dalam rutin. Pap smear merupakan metode skrining yang sudah dikenal luas.
• Dokter Anda akan menggunakan spekulum untuk melihat serviks. Selanjutnya dengan menggunakan alat khusus (sikat yang halus), dilakukan pengambilan sel-sel di sekitar serviks. Kemudian sel-sel tersebut dipulas pada kaca objek dan dikirimkan ke
laboratorium untuk diperiksa. Pap smear biasanya tidak nyeri, tetapi kurang nyaman bagi sebagian perempuan.
• Konsultasikan kepada Dokter Anda, kapan sebaiknya Anda melakukan pap smear
IVA adalah skrining yang dilakukan dengan memulas serviks menggunakan asam asetat 3-5% dan kemudian diinspeksi secara kasat mata oleh tenaga medis yang terlatih. Setelah serviks diulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal atau abnormal.
• Pemeriksaan kolposkopi merupakan pemeriksaan standar bila ditemukan hasil pap smear yang abnormal.
• Pemeriksaan dengan kolposkop, merupakan pemeriksaan dengan pembesaran untuk melihat kelainan epitel serviks, pembuluh darah setelah pemberian asam asetat. Pemeriksaan kolposkopi tidak hanya terbatas pada serviks, tetapi meliputi vulva dan vagina.
• Prosedurnya sama dengan pap smear, tenaga medis dapat melihat lebih dekat dengan alat kolposkop sehingga dapat memberikan saran pengobatan atau terapi atau tindak lanjut apa yang perlu dilakukan.
Pengambilan contoh jaringan (biopsi) kadang perlu dilakukan untuk diagnosa lebih lanjut, atau kadang serviks yang abnormal justru diterapi saat biopsi.
Apabila Anda merasa khawatir atau membutuhkan informasi lain, konsultasikan kepada Dokter atau pusat pelayanan kesehatan untuk informasi lebih lanjut.
Sumber : www.kankerserviks.com

0 komentar:

Posting Komentar