Selasa, 09 November 2010

DETEKSI DINI DAN MANAJEMEN GANGGUAN NAPAS PADA NEONATUS SEBAGAI APLIKASI P O N E K (PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENCY KOMPREHENSIF)

Oleh :
M.Sholeh Kosim
Sub Bagian Perinatologi
SMF/Bagian Ilmu Kesehatan Anak
RSUP Dr. Kariadi/ FK UNDIP
Semarang
Pendahuluan
Gawat napas pada neonatus (Respiratory distress in a newborn)
masalah pada pelayanan neonatologi
tantangan karena angka morbiditas dan mortalitas yang
tinggi.
terjadi sekitar 4 – 6 % neonatus.
Sebagian besar penyebab dapat dicegah.
Pengenalan dini dan penanganan tepat sangat diperlukan ,
Sebagian kecil perlu mendapatkan dukungan terapi
ventilator, masih jarang dan bila tersedia , cukup mahal
Salah satu penyebab paling sering untuk perawatan di NICU

Deteksi dini
pengenalan
awal, mulai :
faktor risiko
gejala klinis
penegakan diagnosis
pengelolaan awal
>>>>>>>>>>>
•komplikasi
•atau cacat yang
lebih berat..............
Pelayanan Kesehatan
Kontinum dan Komprehensip >>>>>>
Level Komunitas >>>>>
Level Puskesmas>>>>>>
Level RS.Rujukan Dasar>>>>>
Level RS.Rujukan>>>>>>
Lanjut/Pusat>>>>>>
PONED
PONEK
Pelayanan obstetrik neonatal emergensi
komprehensif (PONEK)
Sistem pelayanan kasus gawat darurat obstetrik
dan neonatal
Dilaksanakan di Rumah Sakit rujukan secara
komprehensif.
Rumah Sakit rujukan : rumah sakit dengan
fasilitas lengkap yang harus siap menerima
rujukan dari fasilitas pelayanan sebelum nya
(level I dan Level II).
Aplikasi
Yang dimaksudkan mulai kesiapan
Sumber Daya manusia:
dalam hal pengetahuan dan ketrampilan
sarana dan prasarana untuk mendukung
pelayanan.
Aplikasi yang betul sistem pelayanan
rujukan neonatal ini :
dapat menurunkan angka kesakitan dan
kematian neonatal
Pengertian
Gawat napas / distress respirasi pada neonatus :
4 gejala utama yaitu :
Takipnea : laju napas > 60 kali per menit
(normal laju napas 40 kali per menit)
Sianosis sentral pada suhu kamar
Retraksi : cekungan pada sternum dan kosta
pada saat inspirasi
Grunting : suara merintih saat ekspirasi
8
Takipnea dan distress respirasi
Takipnea :
meninggi nya laju napas > 60 kali per menit
pada bayi dalam keadaan istirahat.
Laju napas tidak boleh di hitung dengan
cepat pada saat bayi setelah minum , tetapi
harus dihitung saat bayi dalam keadaan
tenang dalam waktu 1 menit penuh
Distress respirasi selalu dihubungkan dengan
retraksi dan grunting
Menyingkirkan penyakit jantung
Gejala utama distress respirasi adalah
takipnea dan sianosis
perlu membedakan sianosis akibat
kelainan jantung atau paru
merupakan hal sangat penting dan sering
merupakan problem klinik, terutama pada
kasus dengan takipneu ringan atau tanpa
distress respirasi.
10
Dapat membantu membedakan membedakan sianosis
akibat kelainan jantung atau paru
Pulse oxymeter ( oksimeter nadi ) dapat membantu
apakah tes hiperoksia ini berguna.
Seorang neonatus yang mengalami sianosis tanpa
distress respirasi yang jelas dan memiliki SaO2 < 85 %
pada udara kamar dan oksigen 100 % seperti nya
mempunyai pirau intra kardial. Bila SaO2 > 85% pada
oksigen 100% maka tes hiperoksia harus dikerjakan.
Tes hiperoksia ( 2 )
12
Bila PaO2 300 mmHg pada Oksigen 100%
berarti normal,
PaO2 > 150 mmHg curiga penyakit paru
PaO2 50 – 150 mmHg curiga penyakit jantung
atau hipertensi pulmonal berat.
Ekokardiografi mungkin dapat memberi
jawaban kepastian, namun perlu waktu
Penyebab
Medikal:
Respiratory distress syndrome (RDS), atau
Penyakit membrane Hialin
Sindroma Aspirasi mekonium
Transient tachypnea of newborn (TTNB)
Pneumonia,
Aspirasi
Hipertensi pulmonal
Adaptasi yang terlambat,
Asfiksia dan asidosis
Surgikal:
Pneumototaks
Hernia diaphragmatika
Fistula trakeoesofageal
Sindroma Pierre Robin ( saluran napas atas
tertutup karena posisi lidah yang jatuh ke
belakang),
Atresia koanae
Emfisema lobaris
Penyebab
Pulmoner maupun non pulmoner
Penyebab pulmoner
1. Penyakit membran
hialin .
2. Wet lung syndrome.
3. Aspirasi mekonium .
4. Pneumonia.
Penyebab Ekstra
pulmoner :
1. Pneumotoraks
2. Gagal jantung
3. Hipotermia
4. Asidosis metabolik.
5. Anaemia.
6. Polisitemia .
X FOTO DADA : PENTING
Menurut PONEK :
Takipnea sementara pada neonatus (TTN).
Sindrom gawat napas(RDS).
Apnea.
Sindrom aspirasi mekonium (MAS).
Sindrom kebocoran udara.
Pneumonia.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Indikasi
Foto toraks dada Mencari kausa
Kultur darah Bakteriemia, tidak begitu menolong oleh
karena hasil baru didapatkan > 48 jam
Analisis Gas Darah Untuk menilai keasaman darah atau status
asam basa
Kadar glukosa darah Curiga hipoglikemia
Darah lengkap termasuk hitung jenis Lekositosis, bakteriemia, anemia,polisitemia,
trombositopenia
Pungsi lumbal Curiga meningitis
Oximeter nadi ( Pulse oxymeter ) Deteksi hipoksemia, terapi oksigen
Manajemen Umum
1. Jaga kehangatan bayi , lebih baik rawat di inkubator
2. “ Minimal handling” , meminimasi prosedur atau tindakan medis
oleh karena setiap prosedur bahkan merangsang bayi dan akan
meningkatkan kebutuhan oksigen. Penghisapan lendir secara rutin
tidak diperlukan
3. Penuhi kebutuhan energi dengan memberi infuse rumatan
4. Tangani sianosis sentral dengan memberi oksigen melalui kateter
nasal atau head box.
Pantau : FiO2 , SaO2 dan PaO2
Bila tidak mungkin : monitor ini maka cukup dengan memberi
oksigen sampai lidah bayi menjadi kemerahan
24
5. Catat dan observasi ketat setiap jam dan perhatikan apabila ada
perburukan dari :
6. (i) Laju napas.
• (ii) Ada tidak nya retraksi dan grunting
• (iii Ada tidak nya sianosis .
• (iv) FiO2 bila memungkinkan.
• (v) SaO2 bila memungkinkan
• (vi) Denyut jantung
• (vii) Suhu kulit ( aksiler ) dan incubator
7. Lakukan pemeriksaan radiologist dada .
8. Bila memungkinkan periksa Analisis Gas Darah
9. Konsultasi rujukan ke level 2 atau 3 Rumah Sakit Rujukan terdekat
bila sewaktu waktu (Penyakit membran hialin )
10. Jaga bayi tetap kemerahan dengan head box atau CPAP melalui
nasal prongs. Dengan CPAP campuran udara dan oksigen
dihembuskan ke paru bayi secara kontinyu setiap bayi bernapas
secara spontan : membantu bayi agar alveoli tetap berkembang
dan terjadi peningkatan oksigenasi.Head box lebih mudah .CPAP
melalui nasal prongs lebih efektif
11. Bila bayi sering apnu : berarti CPAP gagal harus segera dilakukan
intubasi dan pemberian ventilasi
Pemberian Oksigen.
Takipnu ringan dapat diobservasi
selama 10-20 menit
Hentikan minum per oral bila laju
napas cepat (>80/menit).
Pertimbangkan konsultasi atau
rujukan
Manajemen khusus
Perhatikan Pedoman untuk kasus kasus tertentu
Pemberian antibiotik untuk kasus Curiga Sepsis
neonatal atau Pneumonia neonatal
Pemberian Surfaktan untuk RDS atau Penyakit
membrane Hialin
Dekompresi dengan tusukan jarum pada pneumotoraks
28
Manajemen khusus menurut Protokol PONEK
Oksigenasi
Pembatasan cairan
Pemberian minum setelah takipnea membaik
Konfirmasi diagnosis dengan menyisihkanpenyebab takipnea
yang lain :
pneumonia,
penyakit jantung kongenital,
.hyaline membrane disease (HMD)
hiperventilasi serebral

0 komentar:

Posting Komentar