Monday, November 28, 2011

PANDUAN PERAWATAN GIGI LENGKAP

Oleh: drg. Martha Mozartha





1. A-Z bleaching


Tak bisa dipungkiri, sebagian besar dari kita memberi penilaian terhadap seseorang pertama kali dari penampilannya.Bagian ukurannya mungkin bisa dibilang kecil, tapi dampaknya amat besar terhadap penampilan secara keseluruhan adalah senyuman.Ukuran, bentuk, dan sensualitas bibir dapat mempengaruhi indahnya suatu senyuman, tapi sesungguhnya yang tak kalah memegang peranan penting adalah gigi. Sayangnya bagian ini sering dianggap sepele.
Belakangan ini, tuntutan terhadap kesehatan dan keindahan gigi semakin meningkat. Berbagai macam cara dilakukan untuk memperbagus gigi. Gigi yang susunannya tidak rata dirapikan dengan perawatan orthodontik. Gigi yang patah atau mati dirawat saluran akar lalu dibuatkan mahkota tiruan. Gigi yang hilang diganti dengan gigi tiruan. Bila ketinggian tulang tidak mencukupi atau ada kondisi yang tidak mendukung, masih bisa disiasati dengan dental implant. Gigi yang berubah warna dan ingin diperbaiki? Bisa, dengan prosedur dental bleaching atau pemutihan gigi.
Sekilas tentang sejarah "dental bleaching"
Dental bleaching bukan hal yang baru! Menilik sejarahnya, dental bleaching ini ternyata sudah dilakukan sejak tahun 1898, menurut Haywood. Tapi baru sedikit sekali dokter gigi yang melakukannya. Bahan yang pertama kali dilaporkan sebagai bleaching agent adalah asam oksalat, yang dijelaskan oleh Chappel tahun 1877. Dengan serangkaian percobaan, dokter gigi menemukan agen yang lebih efektif, di mana Harlan melaporkan penggunaan hidrogen peroksida pada tahun 1884. Baru pada sekitar tahun 1990an, dental bleaching dengan cepat meraih popularitas, di mana home bleaching pertama kali diperkenalkan.
Perubahan warna gigi
Perubahan warna gigi dapat dikategorikan menjadi ekstrinsik dan intrinsik. Perubahan warna ekstrinsik adalah terjadinya stain pada permukaan email karena adanya zat-zat dari luar tubuh. Nikotin yang terkandung dalam rokok dapat menyebabkan stain yang gelap pada permukaan gigi, terutama di daerah leher gigi di bagian permukaan dalam. 

Gbr. 1. Staining pada permukaan gigi bagian dalam karena deposit nikotin


Gigi dengan tambalan amalgam yang sudah bertahun-tahun dapat membuat tepi tambalan berwarna kehitaman.

Gbr.2 Gigi dengan tambalan amalgam. Perhatikan tepi tambalan amalgam yang berwarna kehitaman.
 Perubahan warna instrinsik adalah perubahan yang berasal dari dalam struktur gigi. Perubahan ini bisa karena usia. Fenomena aging atau penuaan juga bermanifestasi pada gigi, di mana gigi cenderung menguning seiring dengan pertambahan usia.

Gbr. 3. Warna gigi kekuningan karena penuaan

Perubahan warna gigi yang menjadi lebih kuning karena faktor usia adalah kejadian fisiologis. Pada orang berusia lanjut biasanya terjadi penipisan email, sehingga lebih menampakkan dentin yang opaque (tidak melewatkan cahaya). Hasilnya adalah warna gigi terlihat lebih gelap.
Antibiotik tetrasiklin yang dikonsumsi saat masa pembentukan email dapat membuat gigi menjadi keabu-abuan. Hal ini paling rentan terjadi pada saat trimester kedua hingga anak berusia 8 tahun. Namun untungnya saat ini penggunaan antibiotik tetrasiklin sudah semakin sedikit.
Gbr. 4 Tetracyclin stain moderat
Gbr. 5 Tetracyclin stain berat


Overexposure terhadap fluor di masa kanak-kanak saat masa pembentukan email dapat menyebabkan terjadinya gangguan mineralisasi gigi, sehingga terlihat bercak-becak putih pada permukaan gigi. Keadaan ini disebut dental fluorosis. Pada keadaan fluorosis berat, email hampir seluruhnya rusak sehingga menyisakan lapisan dentin yang lebih opaque.
Gbr. 6 Fluorosis ringan
Gbr. 7 Fluorosis berat


Banyaknya produk bleaching yang mengklaim dapat membuat gigi putih cemerlang terkadang membutakan masyarakat. Prosedur pemutihan gigi ini seharusnya tidak dilakukan secara sembarangan, dan sebaiknya di bawah supervisi dokter gigi. Supaya tidak dengan mudah termakan iklan, setiap konsumen yang ingin menjalani prosedur bleaching sebaiknya mengetahui apa dan bagaimana mekanismenya. Dengan demikian efek samping dan konsekuensi yang mungkin akan dihadapi sudah dipahami terlebih dulu.
Mekanisme bleaching
Prosedur bleaching menggunakan bahan kimia, yang paling sering digunakan adalah peroksida. Proses ini melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi, di mana peroksida bertindak sebagai agen pengoksidasi. Karbamid peroksida tersedia dalam berbagai konsentrasi, mulai dari 3% hingga 15%. Dari hasil banyak penelitian diketahui bahwa konsentrasi yang paling aman sekaligus efektif adalah karbamid peroksida 10%.
Karbamid peroksida akan terurai menjadi hidrogen peroksida dan urea. Hidrogen peroksida inilah yang akan menghasilkan radikal bebas, yang akan bereaksi dengan molekul organik dalam email gigi. Dengan adanya reaksi ini, molekul organik yang berukuran besar dan berpigmentasi tinggi akan menjadi molekul berukuran lebih kecil dan lebih sedikit pigmen. Molekul kecil ini lebih sedikit merefleksikan cahaya. Hasil akhirnya gigi tampak lebih putih.
Perhatian
Yang perlu diperhatikan adalah, bila bleaching dilakukan secara berlebihan maka akan mencapai titik saturasi. Bila titik ini terlampaui, maka yang terjadi bukannya gigi bertambah putih tapi emailnya malah akan rusak.
Macam prosedur bleaching
I. Bleaching pada gigi non-vital (bleaching intra korona)
Gigi yang sudah mati, misalnya karena patah atau karena proses karies, dapat berubah warna karena kematian jaringan pulpa.
Gbr. 8 Perhatikan gigi non vital yang berwarna gelap kehitaman
Pada gigi yang cedera, dapat terjadi perdarahan pada ruang pulpa dan menyebabkan gigi berubah warna. Grossman mengkaitkan perubahan warna ini dengan iron sulfide, di mana sel darah merah yang mengalami hemolisis akan melepaskan hemoglobin. Zat besi dalam hemoglobin bergabung dengan hidrogen sulfida yang diproduksi bakteri, dan membentuk iron sulfide. Zat ini adalah pigmen yang berwarna sangat gelap.
Gigi yang sudah non vital ini terlebih dulu harus dirawat saluran akar (perawatan endodontik), baru boleh dilakukan bleaching. Bahan bleaching yang lazim digunakan adalah superoksol (hidrogen peroksida 30-35 %) dan sodium perborat. Dokter gigi akan memasukkan bahan bleaching ini ke dalam mahkota gigi, ditutup dengan tambalan sementara.
II. Bleaching pada gigi vital
  • At home bleaching
Perawatan bleaching yang dilakukan sendiri di rumah dapat menggunakan beberapa cara. Ada yang menggunakan tray, point-on, atau strip.
Untuk yang menggunakan tray, pertama-tama pasien dicetak untuk mendapatkan tray yang sesuai dengan rahangnya. Warna gigi pasien dicatat, agar warna sebelum dan sesudah aplikasi dapat dibandingkan.



Gbr. 9 Pencatatan warna menggunakan shade guide

Gbr. 10 Bahan bleachingtray yang dioleskan ke

Gbr. 11 Tray yang sudah diberi bahan bleaching dipakai di dalam mulut
Tray ini berfungsi untuk menjaga bahan bleaching hanya terfokus mengenai gigi saja, dan tidak mengenai jaringan lunak (gusi dan sekitarnya).
Aplikasi bahan at-home bleaching ini bervariasi, tergantung petunjuk pabrik pembuatnya. Biasanya aplikasinya membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu 2-8 jam per hari selama 2 minggu.

Gbr. 12 Sebelum aplikasi bahan bleaching
Gbr. 13 Setelah aplikasi, gigi dibandingkan dengan warna awal
 
Selain dengan menggunakan tray, at-home bleaching juga dapat dilakukan dengan menggunakan kuas dan biasa disebut paint-on bleaching. Namun biasanya konsentrasi bahan yang digunakan lebih rendah, jadi hasilnya juga kurang memuaskan.
Gbr. 14 Paint-on bleaching
  •  In office bleaching
Perawatan bleaching yang dilakukan oleh dokter gigi di klinik pada prinsipnya sama. Tapi durasinya lebih singkat, dan bisa juga kemudian dilanjutkan dengan perawatan ­at-home bleaching.
In-office bleaching biasanya menggunakan bahan hidrogen peroksida 35 %, dan dapat dilakukan dengan bantuan penyinaran atau dengan bantuan laser. Hidrogen peroksida berkonsentrasi tinggi ini jauh lebih efektif daripada karbamid peroksida yang digunakan di rumah (at-home bleaching) namun harus dilakukan oleh dokter gigi, karena ia berpotensi untuk menimbulkan iritasi pada jaringan lunak di sekitar gigi.
Dengan adanya bantuan sinar atau panas, reaksi reduksi oksidasi dapat lebih cepat terjadi. Prosedur perawatan menjadi relatif singkat, yaitu rata-rata 1-2 jam per kunjungan. Sehingga hasilnya juga lebih memuaskan, namun sayangnya biayanya relatif cukup mahal.
Gbr. 15 Light activated dental bleaching
Perhatian
Perlu diingat, prosedur pemutihan gigi tidak dijamin manjur untuk semua kasus. Tidak semua perubahan warna pada gigi dapat diperbaiki dengan prosedur bleaching. Gigi dengan tetracycline stain berat mungkin warnanya bisa lebih terang tapi garis khas yang terlihat di permukaan gigi yang berubah warna akibat antibiotik ini tidak akan dapat dihilangkan. Gigi dengan fluorosis berat juga tidak dapat diperbaiki dengan bleaching. Pada keadaan tersebut dokter gigi seharusnya menjelaskan kepada pasien agar tidak kecewa dengan hasil perawatan, dan memberi alternatif perawatan lain seperti pembuatan mahkota tiruan atau dengan restorasi lain seperti labial veneer.
Efek samping dental bleaching
Efek samping yang paling sering terjadi setelah perawatan bleaching adalah sensitivitas gigi dan iritasi pada jaringan lunak seperti gusi. Hidrogen peroksida dapat berpentrasi ke ruang pulpa melalui email dan dentin, dan menyebabkan rasa ngilu. Oleh karena itu dianjurkan untuk dilakukan aplikasi fluor paska perawatan bleaching untuk mengurangi rasa ngilu.
Keadaan-keadaan di mana bleaching sebaiknya tidak dilakukan
  1. Ruang pulpa yang berisi pembuluh darah dan syaraf masih sangat besar, yaitu pada usia muda. Oleh karena itu bleaching tidak disarankan untuk anak-anak dan remaja.
  1. Kehilangan lapisan email yang berat, seperti pada keadaan fluorosis yang berat atau pada kasus hipoplasia email dan amelogenesis imperfekta.
  1. Orang yang giginya banyak tambalan atau restorasi, terutama pada daerah gigi depan
  1. Orang dengan riwayat alergi terhadap peroksida.
Makanya, dokter gigi berperan penting dalam menentukan boleh atau tidaknya bleaching dilakukan. Keadaan rongga mulut perlu diperiksa terlebih dulu, gigi harus bersih dari kalkulus (karang gigi) dan karies.
Perhatian
Hasil dari perawatan bleaching bersifat sementara. Gigi mungkin kembali kuning, meski lamanya ketahanan efek dari perawatan ini masih diperdebatkan. Pola makan dan minum serta penjagaan kebersihan mulut sangat mempengaruhi efek jangka panjang dari perawatan bleaching. Setelah beberapa lama, perawatan bleaching dapat kembali dilakukan.



2. Benang Gigi (Dental Floss)

Acapkali menyikat gigi masih kurang memberikan hasil yang optimal dalam proses membersihkan gigi. Kontur gigi, bentuk gigi,  dan tipe jenis sikat gigi menjadi faktor utama hasil kebersihan menyikat gigi.Jika sudah begini, plak pun bisa tumbuh dan berkembang di bagian gigi yang sulit dijangkau.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, dapat menggunakan dental floss untuk menyingkirkan sisa makanan dan juga memelihara kebersihan mulut.
Sebagian orang menggantikan posisi fungsi tusuk gigi dengan benang gigi. Adapun fenomena peralihan tersebut dipicu aksioma baru bahwa penggunaan tusuk gigi dapat menyebabkan penurunan pada gusi oleh sebagian dokter gigi.
Namun di Indonesia, penggunaan benang gigi sendiri masih belum terlalu populer. Berikut beberapa tips menggunakan dental floss dengan benar:
   

3. Macam Gigi Tiruan

Gigi tiruan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu gigi tiruan penuh dan gigi tiruan sebagian. Gigi tiruan penuh dibuat pada pasien yang sudah kehilangan seluruh gigi geliginya, sedangkan gigi tiruan lepasan dibuat bila masih ada sebagian gigi yang tersisa. Gigi tiruan sebagian dapat dibagi lagi menjadi gigi tiruan lepasan (yang dapat dilepas pasang sendiri oleh pasien) dan gigi tiruan cekat (yang disemenkan ke gigi pasien secara permanen).
Gigi Tiruan Penuh

Sebelum perawatan. Pada rahang atas tinggal tersisa dua gigi. Pasien sulit mengunyah. Rencana perawatan meliputi pencabutan 2 gigi atas, bedah untuk mengkoreksi bentuk tulang rahang atas dan direhabilitasi dengan gigi tiruan penuh rahang atas, sedangkan pada rahang bawah dibuatkan gigi tiruan sebagian.
Sesudah perawatan. Pasien telah menggunakan gigi tiruan penuh pada rahang atasnya dan gigi tiruan sebagian di rahang bawah. Gigi tiruan terbuat dari resin akrilik.
Setelah pemasangan gigi tiruan, pasien kembali merasa percaya diri dan nyaman dengan gigi tiruannya.
(Foto. dok.  drg. Putry Bunda Navirie Sp.Pros)
Gigi Tiruan Sebagian
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, gigi tiruan dapat berupa gigi tiruan lepasan ataupun cekat. Gigi tiruan sebagian umumnya terdiri dari elemen gigi tiruan dari akrilik yang dilekatkan ke basis resin akrilik (semacam plastik) yang berwarna merah muda menyerupai gusi.  Selain menggunakan basis akrilik, bisa juga menggunakan kerangka logam, yang menawarkan kelebihan yang lebih banyak dibandingkan gigi tiruan dengan basis akrilik.
  • Gigi tiruan sebagian lepasan
Gigi tiruan sebagian lepas untuk rahang atas, elemen gigi dari akrilik dengan kerangka logam (metal partial denture). Gigi tiruan jenis ini relatif lebih nyaman bagi pasien.
(www.youngfamilydentistry.org)
Gigi tiruan sebagian lepas untuk rahang atas,   dengan basis akrilik yang berwarna merah muda, menyerupai gusi, dengan bantuan cengkeram dari logam yang akan memegang gigi penjangkaran supaya gigi tiruan tidak akan lepas saat pasien mengunyah makanan
(www.drjoygraham.com)
Gigi tiruan sebagian cekat
Gigi tiruan jenis ini tidak dapat dilepas pasang sendiri oleh pasien karena dicekatkan ke gigi dengan menggunakan semen kedokteran gigi, lebih dikenal dengan istilah mahkota tiruan / dental crown dan mahkota tiruan jembatan /dental bridge.
  • Mahkota tiruan (dental crown)
Crown dibuat pada kasus dimana mahkota gigi sudah rusak, atau pada gigi yang sudah dirawat saluran akar. Crown menutupi seluruh bagian mahkota gigi yang sebelumnya sudah diasah terlebih dahulu.

Ilustrasi mahkota tiruan penuh pada gigi depan rahang atas. Gigi yang akan dipasang crown terlebih dulu diasah, kemudian crown dilekatkan dengan menggunakan semen khusus kedokteran gigi
  • Mahkota tiruan jembatan (dental bridge)
Bridge dibuat untuk menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang, dengan  menggunakan gigi di sebelah gigi yang hilang sebagai penjangkaran. Gigi di sebelah gigi yang hilang akan diasah, lalu dipasangkan mahkota tiruan.
Crown dapat terbuat dari logam (all metal), porselen (all porcelain), resin akrilik, atau paduan logam dengan porselen (porcelain-fused-to-metal crown/PFM) atau bahan resin komposit dengan penguatan fiber. Yang paling sering digunakan adalah PFM crown, karena paling menyerupai tampilan gigi asli dengan kekuatan yang baik untuk menahan tekanan kunyah.


4. Pasta Gigi
 
Dewasa ini penggunaan pasta gigi seperti sudah merupakan bagian dari syarat tetap dalam bagian proses menyikat gigi. Diperlukan kiat-kiat pemilihan pasta gigi yang tepat guna mengoptimalkan dampak yang signifikan terhadap kebersihan gigi. Disamping itu, pemilihan pasta gigi yang baik dan sehat juga berpotensi menekan timbulnya rasa ngilu pada gigi. Beberapa tips memilih pasta gigi yang baik dan sehat:
  1. Pilih pasta gigi yang mengandung cukup fluoride. Kadar fluoride berfungsi untuk menjaga gigi agar tidak berlubang. Namun, anak-anak di bawah 3 tahun sebaiknya tidak memakai odol. Karena, terlalu banyak fluoride juga tidak sehat dan membuat gigi lebih rapuh. Fluoride juga juga dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan jika tertelan.
  2. Pilih pasta gigi yang memiliki kandungan detergent paling sedikit. Busa yang terlalu banyak mengindikasikan bahwa kandungan deterjen yang dimiliki juga banyak. Stigma bahwa semakin banyak busa semakin baik, tidak benar adanya.
  3. Hindari langsung makan setelah menyikat gigi. Pasalnya, kadar asam mulut akan turun dan fluoride pun hilang, sehingga kuman akan masuk lagi. Aktifitas makan sebaiknya 1 hingga 2 jam setelah menyikat gigi.
Dari hasil penelitian di banyak negara fluoride merupakan bahan yang terbukti dapat menurunkan prevalensi karies. Penambahan zat adiktif sebagai desinfektan juga dapat membunuh kuman-kuman yang ada di plak gigi hingga beberapa jam setelah melakukan sikat gigi.
Namun bukan berarti fluoride sama sekali tidak berbahaya bagi tubuh manusia, hingga kini fluoride masih dipakai para ahli senjata sebagai bahan campuran pembuatan bom atom, jika tertelan dalam dosis tertentu fluoride dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada beberapa organ vital tubuh. Bahan lain yang ditambahkan pada pasta gigi dewasa ini adalah pyrophosphates yang membantu mencegah timbulnya karang gigi.
Ada pula pasta gigi yang ditujukan untuk mengurangi gigi sensitif. Penting untuk diingat, pemakaian pasta gigi semacam ini tidak akan efektif apabila rasa ngilu yang timbul pada gigi disebabkan oleh adanya lubang yang sudah mencapai syaraf gigi. Jika demikian, diperlukan perawatan saraf gigi (endodontic intra canal) oleh dokter gigi.
Pemakaian pasta gigi yang mengandung bahan pemutih gigi juga tidak dapat membuat gigi menjadi instan putih cemerlang. Terutama bagi yang memiliki gigi berwarna kecoklatan akibat konsumsi antibiotik, menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung zat pemutih sama sekali tidak akan menyebabkan gigi menjadi berwarna putih. 
Pada hal ini, konsumen pasta gigi disarankan jangan berharap banyak pada pasta gigi pemutih yang dijual bebas dipasaran. Pemutihan gigi hanya bisa dilakukan oleh dokter gigi.


5. Perawatan Orthodontik

Apa itu perawatan orthodontik?
Beberapa di antara kita mungkin memiliki susunan gigi yang tidak beraturan. Ada yang tumpang tindih, berjejal, gigi depan yang maju, atau gigitan silang antara rahang atas dan bawah. Gigi merupakan satu kesatuan dengan struktur sekitar seperti jaringan otot pengunyah, tulang rahang, wajah yang memiliki hubungan erat dan timbal balik. Jadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada struktur tersebut dapat mempengaruhi susunan gigi, demikian juga sebaliknya.
Masalah ini telah lama menjadi cakupan dalam bidang ilmu kedokteran gigi, dan dinamakan Orthodontik. Menurut British Society of Orthodontics, Orthodontik adalah cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan khususnya tulang rahang dan wajah yang dapat mempengaruhi posisi gigi.
Jadi perawatan orthodontik tidak semata-mata hanya berurusan dengan merapikan susunan gigi yang tidak rata tapi juga mengembalikan fungsi pengunyahan yang normal. Dengan dilakukannya perawatan orthodontik, pasien diharapkan dapat memiliki susunan gigi yang harmonis sehingga memperbaiki fungsi pengunyahan, cacat muka/asimetri wajah dapat diperbaiki, dan hilangnya rasa sakit yang mungkin terjadi akibat gigitan yang tidak seimbang karena susunan gigi yang tidak rata.
Penyebab maloklusi
Dalam kedokteran gigi, susunan gigi yang tidak beraturan dan hubungan gigi antara rahang atas dan bawah tidak ideal disebut maloklusi. Ada beberapa hal yang menyebabkan maloklusi, di antaranya:
  1. Gangguan perkembangan janin, yang dapat disebabkan oleh kelainan genetik atau faktor lingkungan saat ibu sedang hamil. Contohnya obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil mempengaruhi proses tumbuh kembang janin, termasuk bagian gigi dan mulut. Namun presentasi maloklusi yang disebabkan oleh hal ini relatif kecil.
  2. Gangguan pertumbuhan skeletal (tengkorak kepala) yang dapat disebabkan karena cedera yang dialami janin saat kelahiran, atau proses kelahiran yang sulit sehingga menyebabkan trauma pada kepala janin.
  3. Gangguan pertumbuhan gigi, yang dapat disebabkan oleh jumlah gigi yang kurang (anodontia/oligodontia) atau lebih (supernumerary teeth) dari normal. Bisa juga terjadi akibat kehilangan gigi susu secara dini.
  4. Kebiasaan buruk, seperti mengisap jempol atau benda lain. Tidak semua kebiasaan buruk ini menyebabkan maloklusi, tergantung sampai berapa lama kebiasaan buruk tersebut bertahan. Bila anak masih memiliki kebiasaan ini hingga gigi tetapnya mulai tumbuh, besar kemungkinan ia mengalami maloklusi. Keparahannya bergantung pada seberapa besar tekanan yang diberikan saat ia menghisap jari, posisi jari saat penghisapan, frekuensi dan durasi penghisapan.
Gbr. Anak dengan kebiasaan menghisap jari
Anak yang terbiasa menghisap jari biasanya memberikan penekanan ke arah luar bagi gigi depan atas dan tekanan ke arah dalam bagi gigi depan bawah. Akibatnya posisi gigi depan jauh lebih maju dari gigi bawah, dan ada kemungkinan terjadi gigitan terbuka (open bite).
Gbr. Gigitan terbuka (open bite) akibat kebiasaan menghisap jari.
Gigi belakang sudah terkatup namun gigi depan tetap terbuka.
  1. Ukuran gigi dan rahang yang tidak proporsional, biasanya dikaitkan dengan perkawinan antar suku. Bisa terjadi giginya berukuran besar-besar namun ukuran rahangnya kecil sehingga tidak sanggup menampung semua gigi yang ada, sehingga gigi menjadi berjejal.
Mengapa gigi yang mengalami maloklusi perlu perawatan orthodontik?
  1. Gigi depan yang maju, memiliki gigitan silang, atau berjejal dapat mempengaruhi profil wajah. Bila dilihat dari samping, profil wajah seseorang bisa cembung, datar atau rata. Hal ini tentu mempengaruhi estetika.
  2. Susunan gigi tidak teratur atau wajah asimetris dapat mempengaruhi estetis dan menimbulkan masalah psikososial bagi penderita. Gigi yang berjajar rapi dengan senyum yang menarik biasanya dihubungkan dengan status sosial yang positif, dan hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan diri seseorang.
  3. Gigi tertanam dalam tulang rahang yang pergerakannya melibatkan otot-otot pengunyahan dan gerakan sendi rahang. Gigi yang susunannya tidak/kurang ideal dapat menyebabkan gangguan fungsi kunyah atau masalah sendi rahang. Selain itu juga dapat mengganggu penelanan atau bicara.
  4. Gigi yang berjejal dan tumpang tindih lebih sulit dibersihkan, sehingga lebih rentan terhadap karies (lubang gigi), penyakit periodontal (jaringan pendukung gigi), atau trauma.
Contoh kasus maloklusi yang memerlukan perawatan orthodontik
  • Gigi yang berjejal
Gbr. Gigi yang berjejal, dengan gigi taring (kaninus)
yang tumbuh di luar lengkung rahang


  • Gigi dengan gigitan silang

Gbr. Gigitan silang di gigi depan (Cross bite anterior ), di mana gigi depan atas seharusnya berada di depan gigi depan bawah.


Gbr. Gigi depan yang berjejal dan juga gigitan silang pada gigi depan


Gbr. Profil wajah pasien dengan pertumbuhan rahang bawah ke arah depan sehingga menghasilkan profil wajah yang cekung.

  • Gigi dengan gigitan terbuka (open bite)
Gbr. Perhatikan gigi belakang atas dan bawah sudah terkatup tapi terbuka di bagian depan

  • Gigi dengan gigitan dalam (deep bite)
Gbr. Gigitan dalam, dimana hampir seluruh gigi depan bawah tertutup oleh gigi depan atas

Siapa yang melakukan perawatan orthodontik?
Perawatan orthodontik mencakup banyak hal mulai dari pengetahuan yang lebih mendalam tentang tumbuh kembang, penetapan diagnosis, hingga pemasangan alat itu sendiri. Jadi pemasangan alat orthodontik sebaiknya oleh dokter gigi spesialis orthodontik, bukan oleh dokter gigi umum (general practitioner).

Kapan dirawat orthodontik?
Perawatan orthodontik lebih baik dilakukan pada saat pasien masih dalam tahap tumbuh kembang. Bila perawatan ini dilakukan pada orang dewasa, kemungkinan waktu perawatan akan lebih panjang karena tulang rahangnya lebih padat. Namun ada juga resikonya bila perawatan dilakukan pada saat masih anak-anak atau remaja, yaitu dapat terjadi rekurensi dimana setelah perawatan selesai gigi kembali memiliki susunan yang tidak beraturan karena proses tumbuh kembang masih terus berlanjut.
Macam alat orthodontik
Perawatan orthodontik berdasar pada prinsip-prinsip biomekanika. Gigi yang susunannya kurang ideal dibetulkan dengan menggeser gigi hingga mencapai posisi yang ideal. Supaya bisa bergeser, dibutuhkan pemasangan alat orthodontik (seperti kawat orthodontik, bracket, karet elastik, dan masih banyak lagi) yang akan diaktivasi setiap interval waktu tertentu saat pasien datang untuk kontrol. Pada saat alat diaktivasi, terjadi penekanan pada gigi yang diteruskan pada tulang rahang, sehingga akhirnya gigi akan bergeser. Maka itu terkadang pasien akan merasa sakit atau tidak nyaman pada saat pemasangan atau aktivasi alat. Namun tekanan yang diberikan adalah tekanan ringan yang tidak berlebihan, karena jika berlebihan dapat menyebabkan kematian pada gigi.
Pada beberapa kasus maloklusi yang cukup berat, tidak cukup ruangan yang tersedia agar gigi dapat bergeser. Untuk itu perlu dilakukan pencabutan gigi, yang jumlah dan letaknya sangat bergantung pada masing-masing kasus. Namun umumnya ada dua gigi yang dicabut pada masing-masing rahang atas dan bawah.
Secara garis besar, alat orthodontik dapat dibagi dua, yaitu alat orthodontik cekat (fixed orthodontic appliances) dan lepasan (removable orthodontic appliances).
Gbr. Alat orthodontik cekat
Pemilihan jenis alat sangat bergantung kepada diagnosis, dan berat ringannya kasus. Biasanya pada kasus maloklusi ringan yang tidak memerlukan pencabutan, yang digunakan adalah alat orthodontik lepasan. Alat ini dapat dilepas sewaktu-waktu oleh pasien, oleh karena itu tingkat keberhasilan perawatan sangat bergantung pada kedisiplinan pasien itu sendiri.
Gbr. Alat orthodontik lepasan
Salah satu alat orthodontik lepasan adalah expantion arch yang digunakan untuk mengekspansi langit-langit sehingga didapatkan ruangan untuk pergeseran gigi.
Gbr. Expantion arch pada model gigi
Pada kasus yang lebih berat, digunakan alat orthodontik cekat yang pemasangan maupun pelepasannya harus dilakukan oleh dokter gigi spesialis orthodontik.
Ada juga alat orthodontik cekat yang dipasang pada permukaan dalam gigi sehingga pada saat tersenyum pasien tidak terlihat menggunakan kawat gigi , biasanya terkait dengan alasan estetis.
Gbr. Alat orthodontik yang dipasang pada permukaan dalam gigi atas (bagian palatal)


Gbr. Alat orthodontik yang dipasang pada permukaan dalam gigi bawah (bagian lingual)
Pada kasus maloklusi yang melibatkan kelainan skeletal (tulang tengkorak kepala), ada kasus yang diindikasikan untuk penggunaan head gear untuk mengendalikan pertumbuhan tulang rahang.

Gbr. Pasien yang mengenakan alat orthodontik cekat dengan bantuan head gear.
Pada kasus-kasus berat di mana pertumbuhan rahang atas atau bawah tidak normal atau tidak berkembang, perlu dilakukan pembedahan korektif sebelum dilakukan pemasangan alat orthodontik.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perawatan orthodontik
Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk perawatan orthodontik berbeda-beda pada setiap kasus, dan sangat bergantung pada tingkat keparahan kasus dan faktor kedisiplinan pasien. Bila kasusnya ringan namun pasiennya tidak rajin untuk kontrol ke dokter gigi, maka bisa jadi perawatan akan berlangsung lama. Pada saat pasien dijadwalkan untuk kontrol itulah dokter gigi yang merawat akan melihat tingkat kemajuan kasus dan memberi aktivasi pada alat orthodontik sehingga menyebabkan pergeseran gigi.
Tahap perawatan orthodontik
Secara singkat, tahapan perawatan orthodontik adalah :
  • Dilakukan pemeriksaan kesehatan secara umum dan juga intra oral serta pengisian kartu status pasien. Bila ada gigi yang perlu penambalan, pembersihan karang gigi, atau pencabutan, maka harus dilakukan sebelum dimulainya perawatan orthodontik.
  • Dilakukan pencetakan pada gigi pasien. Pada model gigi yang didapat dari pencetakan ini dilakukan evaluasi maloklusi dan kebutuhan ruang.

Gbr. Model kerja orthodontik
  • Diambil foto gigi pasien, dan juga profil wajah dari samping dan depan. Foto ini diperlukan untuk menunjang saat penentuan diagnosis dan rencana perawatan.
  • Pengambilan foto radiografis (rontgen). Setelah didapat foto cephalometri, akan dilakukan analisis foto.


    Gbr. Tracing pada foto radiograf pasien

  • Setelah semua evaluasi dilakukan, baru dapat ditetapkan diagnosa dan rencana perawatan.
  • Pemasangan alat orthodontik

Gbr. Tahap pemasangan alat orthodontik cekat
  • Kontrol rutin, biasanya dilakukan 2 minggu sekali. Saat pasien kontrol, dokter gigi dapat memeriksa kondisi rongga mulut secara umum, mengamati pergerakan gigi, aktivasi alat, dan melanjutkan rencana perawatan
  • Jika perawatan dianggap sudah selesai, dilakukan evaluasi perawatan yang bertujuan untuk memastikan apakah posisi dan hubungan gigi sudah sesuai dengan rencana perawatan.
  • Alat orthodontik dilepas.
  • Setelah itu pasien dibuatkan retainer, yang menyerupai alat orthodontik lepasan. Pemasangan alat ini tujuannya untuk mencegah gigi berubah posisi lagi atau kambuh (relapse).

Gbr. Salah satu bentuk alat retainer

Penjagaan oral hygiene selama perawatan ortho
Kawat orthodontik pada alat orthodontik cekat sangat berpotensi menjadi tempat berkumpulnya plak. Tidak jarang terjadi karies di bawah bracket orthodontic, dan terkadang baru ketahuan setelah alat orthodontik dilepas. Oleh karena itu penting diperhatikan bila usia pasien masih anak-anak, perlu ditekankan bahwa kebersihan mulut harus dijaga dengan baik. Pasien juga harus menggunakan sikat gigi khusus orthodontik agar dapat membersihkan daerah gigi di bawah bracket orthodontik secara optimal.
Gbr. Sikat gigi khusus orthodontik

Komplikasi yang terjadi akibat pemakaian alat orthodontic cekat :
  1. Gigi berubah warna dan terjadinya karies gigi
Email gigi dapat mengalami kerusakan permanen bila gigi dan bracket orthodontic tidak dijaga kebersihannya selama perawatan. Daerah permukaan email dapat mengalami demineralisasi (kehilangan mineral) sebagai tahap awal terjadinya karies gigi. sehingga setelah kawat orthodontic dilepas, dapat terlihat white spot atau titik putih pada permukaan gigi.
  1. Gigi kembali berjejal setelah pemakaian alat orthodontic (relapse)
  2. Peradangan gusi

Gbr. Peradangan gusi karena penjagaan oral higiene yang kurang baik selama
perawatan orthodontik

  1. Ketidaknyamanan pada gusi dan jaringan lunak akibat kawat yang lepas
  2. Nekrosis gigi karena gaya terlalu besar
  3. Masalah pada sendi rahang
  4. Alergi terhadap alat/kawat orthodontic

6. Perawatan Saluran Akar


Karies (lubang) pada gigi terjadi akibat infeksi bakteri, yang berakibat kerusakan gigi sedikit demi sedikit hingga lama kelamaan lubang semakin dalam. Dari yang dangkal sebatas email, makin dalam hingga mencapai dentin.
Jika karies lebih dalam lagi dan sudah mencapai pulpa, tidak lagi dapat sekedar ditutup dengan bahan tambal. Sebelumnya, harus dilakukan perawatan saluran akar (endodontic treatment, atau root canal treatment). Saluran akar harus dibersihkan agar steril dan bebas dari infeksi kuman. Lalu saluran akar tersebut diisi dengan bahan pengisi saluran akar agar mencegah kontaminasi bakteri.
Gigi yang berlubang akan menimbulkan sakit berdenyut kalau sudah mencapai ruang pulpa (lihat gambar di atas) yang isinya adalah jaringan syaraf dan pembuluh darah. Bila tidak dirawat, infeksi bisa menyebar ke jaringan di bawah gigi dan menimbulkan abses. Abses berisi nanah, dan menyebabkan pembengkakan di gusi, atau pada kasus-kasus tertentu abses ini bisa besar sekali hingga pipi menjadi bengkak. Gigi yang sedang sakit dan mengalami abses tidak boleh langsung dicabut karena infeksi yang terjadi sedang dalam fase akut. Rasa sakit dan abses harus diredakan dulu, dengan minum obat antibiotik menurut resep dokter.
Tahapan Perawatan Saluran Akar

 
Keterangan gambar dari kiri ke kanan:
  • Gmbr 1. Karies mencapai pulpa, terjadi abses di ujung akar gigi
  • Gmbr 2. Mahkota gigi dibor dan dipreparasi untuk memudahkan akses alat-alat endodontik
  • Gmbr 3. Saluran akar dibersihkan dengan jarum endodontik
  • Gmbr 4. Saluran akar diisi dengan bahan pengisi saluran akar, kemudian lubang gigi ditutup dengan bahan tambal dan direstorasi dengan mahkota tiruan.


Gbr. Ilustrasi gigi yang sudah dirawat saluran akar. Saluran akar telah diisi dengan bahan pengisi saluran akar, kemudian gigi harus dibuatkan restorasi

Setelah melewati beberapa hari dan saat pasien datang untuk kontrol tidak ada keluhan, lubang yang menganga pada gigi tersebut ditutup dengan restorasi. Ada beberapa jenis restorasi yang dapat dipilih, bergantung pada kondisi gigi. Mahkota yang dinding-dinding tegaknya masih utuh dapat dibuatkan tambalan dengan logam tuang yang dikerjakan di laboratorium, atau mahkota tiruan bila sudah banyak jaringan mahkota gigi yang hilang.

Memang perawatan ini memerlukan kesabaran baik dari dokter gigi maupun pasien, karena biasanya penyelesaiannya membutuhkan lebih dari satu kali kunjungan. Biayanya pun tidak kecil. Namun setidaknya dapat memperpanjang usia gigi tersebut berada dalam mulut.


7. Sikat Gigi

Walaupun aktifitas menyikat gigi sudah menjadi bagian dari rutinitas kegiatan sehari-hari sejak manusia mampu mengingat, namun masih terdapat kesalahan-kesalahan ketika menggosok gigi. Dari tata cara menyikat gigi, pemilihan sikat gigi, sehingga tak ayal timbul keluhan pada kondisi kesehatan oral.
Untuk langkah pertama, bisa diawali dengan memilih sikat gigi yang tepat. Berikut beberapa tips yang bermanfaat dalam memilih sikat gigi yang baik dan sehat:
  1. Sesuaikan ukuran sikat gigi dengan rongga mulut, terutama untuk menggosok bagian yang sulit dijangkau. Selain itu, dengan memiliki sikat gigi yang sesuai dengan rongga mulut, dapat mengoptimalkan tingkat fleksibilitas yang lebih tinggi. Terutama bagi yang memiliki struktur gigi cukup kecil, disarankan gunakan sikat gigi berukuran kecil pula. Bentuk kepala sikat gigi yang berbentuk oval dapat melindungi gusi dari kemungkinan terluka.
  2. Pilihlah bulu sikat gigi yang halus. Hal ini berguna untuk melindungi gusi dari kemungkinan terluka ketika menyikat gigi. Pun, bulu sikat yang terlampau kasar dapat merusak lapisan gusi sehingga menyebabkan gigi sensitif. Sebaliknya, jika bulu sikat terlalu halus, kebersihan gigi menjadi kurang optimal.
  3. Sikat gigi dengan pegangan yang cukup lebar dapat membantu untuk menggenggam dengan lebih kuat dan mantap, sekalipun dalam keadaan basah.
  4. Jika menggunakan jenis sikat gigi yang memiliki penutup kepala sikat, pastikan penutup sikat memiliki lubang ventilasi udara. Dengan demikian proses tumbuhnya bakteri akibat tingkat kelembaban yang tinggi di kepala sikat dapat terhindari.
  5. Batas pemakaian sebuah sikat gigi adalah 3 bulan, jika digunakan lebih dari tempo yang ditentukan, maka berpotensi untuk melukai gusi ketika proses penyikatan berlangsung.
Hindari meminjamkan atau meminjam sikat gigi orang lain demi menghindari terjadinya infeksi akibat kuman dan bakteri yang terbawa.
Menggosok gigi secara benar dan teratur dua kali sehari dapat mengurangi resiko terjadinya kerusakan gigi. Berikut adalah sekilas tata cara menyikat gigi yang dianjurkan:
  • Gosoklah seluruh permukaan gigi yang menghadap ke pipi dan lidah. Pastikan seluruh permukaan telah tergosok. Untuk gigi atas gerakan sikat dari atas ke bawah dan sebaliknya untuk gigi bawah gerakan sikat dari bawah ke atas.

 
  • Gosoklah dengan lembut permukaan gusi dan lidah


  • Posisi sikat gigi kurang lebih 45 derajat di daerah perbatasan antara gigi dan gusi sehingga gusi tidak terluka.

 
Biasakan menyikat gigi sebelum tidur. Pada saat seseorang sedang tidur, produksi air liur menurun, sehingga alirannya pun jauh berkurang. Padahal air liur memiliki efek self-cleansing, yaitu berfungsi untuk membilas plak yang melekat di gigi.
Tidur malam bisa memakan waktu hingga 8 jam. Pada rentang waktu selama itu, plak mengalami maturasi, di mana jumlah bakterinya lebih banyak. Pada waktu itulah gigi rentan terhadap proses karies atau gigi berlubang.
Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk menyikat gigi sebelum tidur guna menekan resiko timbulnya gangguan kesehatan oral.

8. Rupa-rupa Tambalan Gigi

Terdapat cukup banyak jenis material yang dapat digunakan untuk menambal gigi, namun yang umum digunakan di Indonesia adalah amalgam, resin komposit, dan GIC. Masing-masing bahan memiliki indikasi, kelebihan dan kekurangan, jadi tidak semua kasus dapat ditambal dengan bahan manapun.
Secara umum tambalan gigi dapat digolongkan menjadi dua yaitu direct restoration dan indirect restoration.
DIRECT RESTORATIONS
Adalah tambalan yang secara langsung dikerjakan oleh dokter gigi pada gigi pasien di dental unit, tanpa membutuhkan proses pengerjaan di laboratorium.
1. Amalgam
Amalgam adalah bahan tambal berbahan dasar logam, di mana komponen utamanya:
  • likuid yaitu logam merkuri
  • bubuk yaitu logam paduan yang kandungan utamanya terdiri dari perak, timah, dan tembaga. Selain itu juga terkandung logam-logam lain dengan persentase yang lebih kecil.
Kedua komponen tersebut direaksikan membentuk tambalan amalgam yang akan mengeras, dengan warna logam yang kontras dengan warna gigi.

Kelebihan :
  • Dapat dikatakan sejauh ini amalgam adalah bahan tambal yang paling kuat dibandingkan dengan bahan tambal lain dalam melawan tekanan kunyah, sehingga amalgam dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama di dalam mulut (pada beberapa penelitian dilaporkan amalgam bertahan hingga lebih dari 15 tahun dengan kondisi yang baik) asalkan tahap-tahap penambalan sesuai dengan prosedur.
  • Ketahanan terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada umumnya lama kelamaan akan mengalami aus karena faktor-faktor dalam mulut yang saling berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut.
  • Penambalan dengan amalgam relatif lebih simpel dan mudah dan tidak terlalu “technique sensitive” bila dibandingkan dengan resin komposit, di mana sedikit kesalahan dalam salah satu tahapannya akan sangat mempengaruhi ketahanan dan kekuatan bahan tambal resin komposit.
  • Biayanya relatif lebih rendah
Kekurangan :
Gmbr. Tambalan amalgam yang kurang baik, di mana tepi-tepi tambalannya
terlihat sudah tidak intak dan membayang kehitaman.

  • Secara estetis kurang baik karena warnanya yang kontras dengan warna gigi, sehingga tidak dapat diindikasikan untuk gigi depan atau di mana pertimbangan estetis sangat diutamakan.
  • Dalam jangka waktu lama ada beberapa kasus di mana tepi-tepi tambalan yang berbatasan langsung dengan gigi dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi sehingga tampak membayang kehitaman
  • Pada beberapa kasus ada sejumlah pasien yang ternyata alergi dengan logam yang terkandung dalam bahan tambal amalgam. Selain itu, beberapa waktu setelah penambalan pasien terkadang sering mengeluhkan adanya rasa sensitif terhadap rangsang panas atau dingin. Namun umumnya keluhan tersebut tidak berlangsung lama dan berangsur hilang setelah pasien dapat beradaptasi.
  • Hingga kini issue tentang toksisitas amalgam yang dikaitkan dengan merkuri yang dikandungnya masih hangat dibicarakan. Pada negara-negara tertentu ada yang sudah memberlakukan larangan bagi penggunaan amalgam sebagai bahan tambal.
Indikasi : Gigi molar (geraham) yang menerima beban kunyah paling besar, dapat digunakan baik pada gigi tetap maupun pada anak-anak.
2. Resin komposit
Resin komposit adalah bahan tambal sewarna gigi, dengan bahan dasar polimer dan ditambahkan dengan partikel anorganiksebagai penguat. Bahan tambal ini umumnya mengalami reaksi pengerasan dengan bantuan sinar (sinar UV, atau bisa juga dengan visible light)
Kelebihan
  • Secara estetik sangat memuaskan, terutama resin komposit dengan formulasi terkini di mana hasil akhirnya sangat menyerupai gigi asli. Namun tentu membutuhkan keterampilan dan keahlian dari dokter gigi. Karena kelebihannya ini, resin komposit adalah bahan tambal yang paling sering digunakan dalam “cosmetic dentistry”.
  • Aplikasinya cukup luas. Meski dulu ada keraguan bahwa bahan tambal resin komposit tidak cukup kuat untuk digunakan pada gigi geraham di mana tekanan kunyah di daerah tersebut paling besar, namun bahan tambal ini terus menerus mengalami perkembangan sehingga kini cukup dapat diandalkan untuk menambal gigi geraham meskipun kekuatannya masih tetap di bawah amalgam.
  • Warna bahan tambal dapat disesuaikan dengan keadaan gigi pasien, karena resin komposit memiliki pilihan shade/warna.
Kekurangan :
  • Material ini membutuhkan tahapan-tahapan yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup mendalam dari dokter gigi untuk mendapatkan hasil yang benar-benar memuaskan dan tahan lama. Jika tidak, tambalan dapat mudah lepas/patah, berubah warna, atau terlihat batas antara tepi tambalan dengan gigi sehingga mengurangi estetika.
  • Pada saat penambalan diperlukan suasana mulut yang cukup kering karena kontaminasi saliva dapat mempengaruhi sifat-sifat jangka panjang dari resin komposit, seperti kekuatan dan daya tahannya. Oleh sebab itu gigi yang akan ditambal resin komposit idealnya harus benar-benar diisolasi, dan hal ini cukup sulit dilakukan terutama pada gigi belakang dan mungkin menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien.
  • Dapat terjadi karies sekunder di bawah tambalan yang mungkin disebabkan karena kebocoran tambalan sehingga bakteri dapat berpenetrasi ke jaringan gigi dan kembali menyebabkan karies.
  • Resin komposit dapat menyerap warna dari zat pewarna dari makanan atau minuman sehingga dalam jangku waktu lama dapat berubah warna.

    Gmbr. A. Gigi depan seorang anak yang patah akibat olahraga
     
    Gmbr. B. Gigi tersebut setelah diperbaiki dengan resin komposit
3. Glass Ionomer Cement (GIC)

Glass ionomer cement adalah bahan tambal sewarna gigi yang komponen utamanya adalah :
  • Likuid yang merupakan gabungan air dengan polyacid (asam poliakrilat, maleat, itakonat, tartarat)
  • Bubuk yang berupa fluoroaluminosilicate glass
Kelebihan :
  • Bahan tambal ini meraih popularitas karena sifatnya yang dapat melepas fluor yang sangat berperan sebagai antikaries. Dengan adanya bahan tambal ini, resiko kemungkinan untuk terjadinya karies sekunder di bawah tambalan jauh lebih kecil dibanding bila menggunakan bahan tambal lain
  • Biokompatibilitas bahan ini terhadap jaringan sangat baik (tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap tubuh)
  • Material ini melekat dengan baik ke struktur gigi karena mekanisme perlekatannya adalah secara kimia yaitu dengan pertukaran ion antara tambalan dan gigi. Oleh karena itu pula, gigi tidak perlu diasah terlalu banyak seperti halnya bila menggunakan bahan tambal lain. Pengasahan perlu dilakukan untuk mendapatkan bentuk kavitas yang dapat ‘memegang’ bahan tambal.
Kekurangan :
  • Kekuatannya lebih rendah bila dibandingkan bahan tambal lain, sehingga tidak disarankan untuk digunakan pada gigi yang menerima beban kunyah besar seperti gigi molar (geraham)
  • Warna tambalan ini lebih opaque, sehingga dapat dibedakan secara jelas antara tambalan dan permukaan gigi asli
  • Tambalan glass ionomer cement lebih mudah aus dibanding tambalan lain
Gmbr. Abrasi pada daerah servikal gigi merupakan salah satu indikasi dari bahan tambal GIC, namun sekarang kebanyakan dokter gigi menggunakan bahan tambal resin komposit
untuk memperbaiki lesi seperti ini.


4. Tambalan sementara

Tambalan ini dibutuhkan di antara perawatan gigi yang tidak dapat diselesaikan dalam satu kali kunjungan. Misalnya perawatan saluran akar, di mana lubang gigi yang sedang dirawat tidak dapat dibiarkan terbuka, namun belum dapat dibuatkan restorasi akhir. Oleh karena itu dibuatkan tambalan sementara, di antaranya bahan semen zinc phosphat, atau zinc eugenol. Semen tersebut memiliki kelarutan yang cukup tinggi dan kekuatannya tidak begitu tinggi sehingga memang hanya bersifat sementara dan pembongkarannya pada saat kunjungan berikutnya tidak begitu sulit.

INDIRECT RESTORATIONS
Adalah tambalan yang dibuat di laboratorium, di mana sebelumnya gigi dan rahang pasien sudah dicetak oleh dokter gigi kemudian hasil cetakan tersebut dikirim ke laboratorium. Umumnya indirect restorations berupa logam tuang yang akan disemenkan pada gigi yang telah dipreparasi, dan pengerjaannya membutuhkan lebih dari satu kali kunjungan. Material yang lazim digunakan adalah porcelain, logam paduan emas, atau logam paduan dasar. Indirect restoration umumnya diindikasikan pada gigi belakang (premolar maupun molar).
Macam dari indirect restorations diantaranya adalah :
  • Inlay
  • Onlay
  • Crown atau mahkota tiruan
Inlay serupa dengan onlay, yaitu tambalan dari logam tuang yang dibuat di dental lab kemudian dicekatkan ke gigi pasien dengan semen kedokteran gigi. Umumnya gigi yang dibuatkan inlay atau onlay adalah gigi yang karies dan sudah berlubang besar atau gigi dengan tambalan yang kondisinya sudah buruk dan harus diganti, bila ditambal secara direct dengan amalgam ataupun resin komposit dikhawatirkan tambalan tersebut tidak akan bertahan lama karena patah atau lepas.
Pertama-tama gigi pasien yang mengalami karies dibersihkan, atau tambalan lama dibongkar. Kemudian gigi diasah/dipreparasi untuk kedudukan inlay/onlay, setelah preparasi selesai gigi pasien dicetak. Hasil cetakan akan dibawa ke dental lab untuk diproses selanjutnya. Gigi pasien lalu ditutup dengan tambalan sementara.
Setelah jadi inlay/onlay, pasien datang kembali dan tambalan sementara akan dibongkar. Kemudian inlay/onlay tersebut dipasangkan kepada pasien. Bila kedudukannya baik maka inlay/onlay tersebut akan disemenkan sehingga cekat dan tidak dapat dilepas sendiri oleh pasien.
Permukaan gigi premolar & molar tidak rata melainkan ada tonjol-tonjol (cusps). Inlay adalah tambalan yang berada di antara cusp, sehingga ukurannya biasanya tidak begitu luas. Sementara onlay biasanya lebih luas dan menutupi salah satu atau lebih tonjol gigi tersebut. Dapat dikatakan onlay adalah merekonstruksi kembali gigi yang kerusakannya sudah sangat luas.


Gmbr. Onlay yang dibuat dari logam paduan emas.
Emas memiliki banyak keunggulan terutama karena bahan ini sangat biokompatibel dan dapat dikatakan tidak mudah mengalami degradasi bila berada di rongga mulut yang merupakan lingkungan korosif. Oleh karena itu inlay/onlay emas dapat bertahan dalam jangka waktu lama, sayangnya biayanya cukup tinggi.


Selain secara indirect, inlay/onlay juga dapat dibuat secara langsung, umumnya material yang digunakan adalah komposit. Pembuatan direct inlay/onlay membutuhkan keahlian dan ketrampilan dari operator.

 disalin dari www.klikdokter.com

0 komentar:

Post a Comment

There was an error in this gadget